
Suatu hari nanti, di rumah munggil bertaman, sore, kita akan menikmati teh di sebuah teras mengenang bagaimana susahnya membuat aku dan kamu menjadi sebuah kita. Bercerita dengan bangga kepada anak-cucu, tentang sebuah perjuangan, tentang sebuah genggaman, tentang sebuah pertengkaran, tentang sebuah kesabaran, ketekunan dan sebuah cinta yang melahirkan mereka.
Suatu hari nanti. Tetaplah di sini, memujudkan aku dan kamu di suatu hari nanti. Kita.
Source: ekaotto.tumblr.com

“Cinta tidak hidup di hati saja. Ia berpindah antara hati dan akal, dan bisa hilang di jalan jika letaknya berjauhan.” (Quraish Shihab) Cinta pada manusia itu bermula dari pengenalan. Setelah pengenalan, maka timbul penghormatan. Cinta kepada manusia harus tetap memelihara kepribadian yang kita cintai, tidak memaksanya menjadi seperti kita, atau memaksa kita menjadi seperti dia. Hormatilah dia, lebih jauh lagi, hormatilah dirimu sendiri. Source: Kuntowiaji

MAMA
Lagi-lagi aku terbangun untuk entah yang keberapa kalinya, tidurku jauh dari kata nyenyak. Melihat mama, aku bersender kepadanya.
“Ma, aku udah maafin dia. Tapi kok seperti masih ada sesak yang mengganjal. Aku sudah bilang, memberikannya kesempatan kedua. Tapi kok seperti masih ada takut yang menghantui..”
Kata mama:
“Namanya juga orang pacaran, kadang ada di jalan yang bagus, kadang enggak. Dimaafkan, diikhlaskan saja, namanya juga manusia, bisa khilaf. Kamu pun mungkin kelak bisa khilaf. Kalau mau diteruskan ya silahkan, pesan mama mencintailah dengan secukupnya, jangan terlalu dalam, biar kalau kecewa tak terlalu sakit. Ingat, sekuat apapun kamu berusaha, jodoh tetap di tangan Tuhan. Dan kesedihan itu datangnya selalu satu paket sama kebahagian, kamu tak perlu takut, nak..”
Sebuah kalimat nasihat sederhana, tapi cukup menenangkan aku. Ya, aku mulai berusaha menatap hari dengan lebih optimis daripada beberapa jam sebelumnya. Tetiba batinku bergumam, aku tak perlu takut, karena aku punya mama yang akan selalu mendampingiku, punya Tuhan sebagai perencana hidupku. Semoga lapanglah hati ini. Amin. :)

“People come and break it, I rearrange it from pieces and give to you. Promise me you’ll keep it.” -Dandy Cahyo

Aku rindu saat-saat kita bertukar cerita dan bersenda gurau. Dari bersemangat, kelelahan, hingga tak kenal lelah, kita terus saling berbagi. Tak berhenti pada kata kenal, kita terus saling mengenal.

Terimakasih pada Sang Maha Pandai, Penciptaku. Kau beri aku jemari yang suka merekam jejak. Lagi-lagi, tinta yang mengingatkanku. Kemudian, menguatkan cintaku. ♥