
MAMA
Lagi-lagi aku terbangun untuk entah yang keberapa kalinya, tidurku jauh dari kata nyenyak. Melihat mama, aku bersender kepadanya.
“Ma, aku udah maafin dia. Tapi kok seperti masih ada sesak yang mengganjal. Aku sudah bilang, memberikannya kesempatan kedua. Tapi kok seperti masih ada takut yang menghantui..”
Kata mama:
“Namanya juga orang pacaran, kadang ada di jalan yang bagus, kadang enggak. Dimaafkan, diikhlaskan saja, namanya juga manusia, bisa khilaf. Kamu pun mungkin kelak bisa khilaf. Kalau mau diteruskan ya silahkan, pesan mama mencintailah dengan secukupnya, jangan terlalu dalam, biar kalau kecewa tak terlalu sakit. Ingat, sekuat apapun kamu berusaha, jodoh tetap di tangan Tuhan. Dan kesedihan itu datangnya selalu satu paket sama kebahagian, kamu tak perlu takut, nak..”
Sebuah kalimat nasihat sederhana, tapi cukup menenangkan aku. Ya, aku mulai berusaha menatap hari dengan lebih optimis daripada beberapa jam sebelumnya. Tetiba batinku bergumam, aku tak perlu takut, karena aku punya mama yang akan selalu mendampingiku, punya Tuhan sebagai perencana hidupku. Semoga lapanglah hati ini. Amin. :)